Typus abdominalis
adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan
gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna, gangguan kesadaran,
dan lebih banyak menyerang pada anak usia 12 – 13 tahun ( 70% - 80% ), pada
usia 30 - 40 tahun ( 10%-20% ) dan diatas usia pada anak 12-13 tahun sebanyak (
5%-10% )
Penyebarannya melalui makanan, minuman dan air yang
terkontaminasi/tercemar oleh bakteri ini, dan bakteri masuk ke dalam
tubuh. Mereka akan bergerak menuju usus lalu masuk ke peredaran darah,
dari sini mereka dapat mencapai sejumlah organ anda, seperti nodus
limfe, kantung empedu, hati, limpa, dan tempat-tempat lainnya di seluruh
tubuh.
Beberapa orang yang terinfeksi dapat menjadi karier (pembawa) kuman S. typhi dan terus melepaskan bakteri S. typhi melalui tinja mereka selama bertahun-tahun – Kasus Typhoid Mary
adalah salah satu kasus yang cukup terkenal di dunia kedokteran modern.
Dan inilah mengapa, salah satu tindakan prevensi yang baik dalam
higienitas sehari-hari adalah menyediakan jamban pada setiap rumah
tangga.
ETIOLOGI
1. Salmonella typhi
• Batang gram negative yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen
yaitu:
- antigen O (somatic, terdiri darizat komplekliopolisakarida)
- antigen H(flagella)
- antigen V1 dan protein membrane hialin.
2. Salmonella parathypi A
3. Salmonella parathypi
B
4. Salmonella parathypi
C
5. Feses, urin dan muntahan penderita
MANIFESTASI KLINIS
A
TANDA TANDA
-
Demam
Pada
minggu pertama demam berangsur naik berlangsung pada 3 minggu pertama . pada
minggu ke 3 suhu berangsur-angsur turun dan kembali normal. Demam tidak
hilangdengan pemberian antiseptic, tidak menggigil dan tidak berkeringat.
Kadang pasien disertai epitaksis
-
Gangguan pada saluran pencernaan
a.
halitosis
b.
bibir kering
c.
lidah kotor berselaput putih dan pinggirannya hiperemesis
d.
perut agak kembung
e.
mual
f.
splenomegali disertai nyeri pada perabaan
g.
pada permulaan umumnya terjadi diare
h.
kemudian menjadi obstipasi
-
Gangguan kesadaran
a.
kesadaran menurun ringan sampai berat
b.
umumnya apatis
c.
bradikardi relative
d.
umumnya tiap kenaikan 1celcius di ikuti penambahan denyut nadi 10-15 kali
permenit
B.
GEJALANYA
-
Penderita mulai cepat lelah
-
malaise
-
sakit kepala
-
rasa tidak enak di perut
-
nyeri seluruh tubuh
-
hal tersebut dirasakan antara 10-14 hari
a.Perdarahan
usus dapat terjadi pada saat demam masih tinggi di tandai dengan:
-
suhu mendadak turun
-
nadi meningkat cepat dan kecil
-
tekanan darah menurun
-
pasien terlihat pucat kulit terasa lembap
-
kesadaran makin menurun
Jika
pendarahan ringan mungkin gejalanya tidak terlihat jelas, karena darah dalam
faeces hanya bisa di buktikan dengan tes benzidin. Jika ini terjadi,
tindakannya adalah: menghentikan makan dan minum, segera pasang infuse jika sebelumnya tidak di
pasang segera hubungi dokter selain pemberian pengobatan untuk menghentikan
pendarahan dapat di lakukan eskap gantung untuk mengganti alat tenun harus 2 -3
orang, paisen tidakboleh di miringkan , pengawasan observasi TTV lebih sering
b.
Perforasi usus dapat terjadi pada minggu ke 4dimana suhu sudah turun. walau suhu sudah normal istirahat masih di
teruskan 2 minggu dengan gejala: pasien mengeluh sakit perut hebat dan akan
nyeri lagi apabila di tekan perut terlihat tegang dan kembung anak menjadi
pucat, dapat juga keringat dingin nadi kecil dan pasien menjadi scohk jika di
jumpai gejala demikian tindakannya adalah : segera hubungi dokter siap foto
roentgen biasanya di kunsul ke bagian bedah
PENATALAKSANAAN
1. Pengobatan
1. Pengobatan
a. Kloramfenikol
b. Kotrimoksasol
c. Bila terjadi ikterus dan
hepatomegali: selain kloramfenikkol, diterapi dengan Ampisilin 100 mg/kgBB/hari
selama 14 hari dibagi dalam 4 dosis.
2. Perawatan
a. Penderita dirawat dengan tujuan
untuk isolasi, observasi, dan pengobatan. Klien harus tetap berbaring sampai
minimal 7 hari bebas demam atau 14 hari untuk mencegah terjadinya komplikasi
perdarahan usus atau perforasi usus.
b. Pada klien dengan kesadaran menurun,
diperlukan perubahan2 posisi berbaring untuk menghindari komplikasi pneumonia
hipostatik dan dekubitus.
3. Diet
a. Pada mulanya klien diberikan bubur saring kemudian bubur
kasar untuk menghindari komplikasi perdarahan usus dan perforasi usus.
b. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan padat
secara dini yaitu nasi, lauk pauk yang rendah sellulosa (pantang sayuran dengan
serat kasar) dapat diberikan dengan aman kepada klien.
Nama : Ainun Ni Intan
Kls : 12 keperawatan A
No. Abs : 01
Tidak ada komentar:
Posting Komentar