Selasa, 26 November 2013

Artikel typhus abdominalis (Ainun Ni Intan)

Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna, gangguan kesadaran, dan lebih banyak menyerang pada anak usia 12 – 13 tahun ( 70% - 80% ), pada usia 30 - 40 tahun ( 10%-20% ) dan diatas usia pada anak 12-13 tahun sebanyak ( 5%-10% )

Penyebarannya melalui makanan, minuman dan air yang terkontaminasi/tercemar oleh bakteri ini, dan bakteri masuk ke dalam tubuh. Mereka akan bergerak menuju usus lalu masuk ke peredaran darah, dari sini mereka dapat mencapai sejumlah organ anda, seperti nodus limfe, kantung empedu, hati, limpa, dan tempat-tempat lainnya di seluruh tubuh.
Beberapa orang yang terinfeksi dapat menjadi karier (pembawa) kuman S. typhi dan terus melepaskan bakteri S. typhi melalui tinja mereka selama bertahun-tahun – Kasus Typhoid Mary adalah salah satu kasus yang cukup terkenal di dunia kedokteran modern. Dan inilah mengapa, salah satu tindakan prevensi yang baik dalam higienitas sehari-hari adalah menyediakan jamban pada setiap rumah tangga.



ETIOLOGI

1. Salmonella typhi

• Batang gram negative yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu:
- antigen O (somatic, terdiri darizat komplekliopolisakarida)
- antigen H(flagella)
- antigen V1 dan protein membrane hialin.
2. Salmonella parathypi A
3. Salmonella parathypi B

4. Salmonella parathypi C

5. Feses, urin dan muntahan penderita

 MANIFESTASI KLINIS

A TANDA TANDA
- Demam
Pada minggu pertama demam berangsur naik berlangsung pada 3 minggu pertama . pada minggu ke 3 suhu berangsur-angsur turun dan kembali normal. Demam tidak hilangdengan pemberian antiseptic, tidak menggigil dan tidak berkeringat. Kadang pasien disertai epitaksis
- Gangguan pada saluran pencernaan
a. halitosis
b. bibir kering
c. lidah kotor berselaput putih dan pinggirannya hiperemesis
d. perut agak kembung
e. mual
f. splenomegali disertai nyeri pada perabaan
g. pada permulaan umumnya terjadi diare
h. kemudian menjadi obstipasi
- Gangguan kesadaran
a. kesadaran menurun ringan sampai berat
b. umumnya apatis
c. bradikardi relative
d. umumnya tiap kenaikan 1celcius di ikuti penambahan denyut nadi 10-15 kali permenit

B. GEJALANYA
- Penderita mulai cepat lelah
- malaise
- sakit kepala
- rasa tidak enak di perut
- nyeri seluruh tubuh
- hal tersebut dirasakan antara 10-14 hari

a.Perdarahan usus dapat terjadi pada saat demam masih tinggi di tandai dengan:
- suhu mendadak turun
- nadi meningkat cepat dan kecil
- tekanan darah menurun
- pasien terlihat pucat kulit terasa lembap
- kesadaran makin menurun

Jika pendarahan ringan mungkin gejalanya tidak terlihat jelas, karena darah dalam faeces hanya bisa di buktikan dengan tes benzidin. Jika ini terjadi, tindakannya adalah: menghentikan makan dan minum,  segera pasang infuse jika sebelumnya tidak di pasang segera hubungi dokter selain pemberian pengobatan untuk menghentikan pendarahan dapat di lakukan eskap gantung untuk mengganti alat tenun harus 2 -3 orang, paisen tidakboleh di miringkan , pengawasan observasi TTV lebih sering

b. Perforasi usus dapat terjadi pada minggu ke 4dimana suhu sudah turun.  walau suhu sudah normal istirahat masih di teruskan 2 minggu dengan gejala: pasien mengeluh sakit perut hebat dan akan nyeri lagi apabila di tekan perut terlihat tegang dan kembung anak menjadi pucat, dapat juga keringat dingin nadi kecil dan pasien menjadi scohk jika di jumpai gejala demikian tindakannya adalah : segera hubungi dokter siap foto roentgen biasanya di kunsul ke bagian bedah

PENATALAKSANAAN
1.    Pengobatan
a.    Kloramfenikol
b.    Kotrimoksasol
c.    Bila terjadi ikterus dan hepatomegali: selain kloramfenikkol, diterapi dengan Ampisilin 100 mg/kgBB/hari selama 14 hari dibagi dalam 4 dosis.
2.    Perawatan
a.    Penderita dirawat dengan tujuan untuk isolasi, observasi, dan pengobatan. Klien harus tetap berbaring sampai minimal 7 hari bebas demam atau 14 hari untuk mencegah terjadinya komplikasi perdarahan usus atau perforasi usus.
b.    Pada klien dengan kesadaran menurun, diperlukan perubahan2 posisi berbaring untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan dekubitus.
3.    Diet
a.    Pada mulanya klien diberikan bubur saring kemudian bubur kasar untuk menghindari komplikasi perdarahan usus dan perforasi usus.
b.    Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan padat secara dini yaitu nasi, lauk pauk yang rendah sellulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan aman kepada klien.

Nama : Ainun Ni Intan
Kls : 12 keperawatan A
No. Abs : 01


Tidak ada komentar:

Posting Komentar